Tentang Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi

Tentang BLI

Sesuai P.18/MenLHK-II/2015 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tugas dan fungsi dari BLI yaitu menyelenggarakan penelitian, pengembangan dan inovasi di bidang LHK termasuk penyebarluasan hasil-hasil penelitian, pengembangan dan inovasi kepada pengguna baik internal maupun eksternal KLHK.

Sasaran strategis KLHK terdiri dari 4 (empat) sastra, yaitu: (1) Terwujudnya Lingkungan Hidup dan Hutan yang Berkualitas serta Tanggap Terhadap Perubahan Iklim; (2) Tercapainya Optimalisasi Manfaat Ekonomi Sumberdaya Hutan dan Lingkungan sesuai dengan Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan; (3) Terjaganya Keberadaan, Fungsi dan Distribusi Hutan yang Berkeadilan dan Berkelanjutan; dan (4) Terselenggaranya Tata Kelola dan Inovasi Pembangunan Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang Baik, serta Kompetensi SDM LHK yang Berdaya Saing. Sedangkan indikator kinerja utama (IKU) KLHK terdiri dari 20 IKU.

BLI mendukungSasaran Strategis KLHK yang ke empat (SS 4), yaitu Terselenggaranya tata kelola dan inovasi pembangunan LHK yang baik serta kompetensi LHK yang berdaya saing. BLI bertanggung jawab atas tercapainya IKU 13 yaitu indeks efektifitas pengelolaan kawasan hutandengan indikatorpeningkatan pengelolaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) sebagai laboratorium riset lapangan, dan mendukung IKU 16 yaitu Hasil litbang yang inovatif dan atau implementatif.

Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dalam Pasal 8 mengamanatkan bahwa pemerintah dapat menetapkan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) guna keperluan Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan, serta Religi dan Budaya tanpa mengubah fungsi pokok kawasan hutan. Menteri Kehutanan mulai tahun 2003 telah menetapkan beberapa KHDTK untuk keperluan penyelenggaraan litbang, oleh sebab itu BLI ditetapkan sebagai pengelola HDTK untuk kegiatan penelitian dan pengembangan sebagaimana diamanatkan dalam pasal 8 Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.15/MENLHK/SETJEN/KUM.1/5/2018 tentang Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus. 

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menunjuk dan menetapkan beberapa KHDTK untuk keperluan penyelenggaraan litbang terpadu yang mana sebelumnya berstatus sebagai kebun percobaan atau sebagai hutan penelitian. Sampai saat ini, BLI mengelola 38 KHDTK yang tersebar di seluruh Indonesia, diantaranya 20 KHDTK sudah berstatus penetapan dan 18 KHDTK masih berstatus penunjukan. Sebelum dinaikkan statusnya sebagai KHDTK, kegiatan penelitian yang dilakukan dalam hutan penelitian dan kebun percobaan merupakan cikal bakal dari integrasi penelitian yang dilakukan oleh P3H dan P3HH atau jenis eksotik.

Berdasarkan hal diatas, BLI telah menyusun Peraturan Kepala Badan Litbang dan Inovasi No. P.4/LITBANG/SET/PLA.2/2/2019 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, yang berisi sebagian besar adalah policy (kebijakan), strategi dan program sebagai dasar pengelolaan jangka panjang, pengelolaan jangka menengah, dan pengelolaan tahunan (operasional) yang menyangkut fungsi dan unsur manajemen dalam mencapai tujuan pengelolaan KHDTK. 

Pada umumnya KHDTK dibangun dalam rangka menunjang kegiatan kelitbangan atau sebagai pintu masuk dari penerapan hasil litbang. KHDTK juga dapat mewakili tipe-tipe hutan berdasarkan formasi klimatis dan edaphis, seperti:

  1. Tipe hutan hujan tropika basah dataran tinggi seperti di  Aek Nauli, Sumatera Utara; Arcamanik, Jawa Barat;  Kaliurang, D.I. Yogyakarta; dan Sumberwringin, Jawa Timur.
  2. Tipe hutan hujan tropika basah dataran rendah seperti di  Haurbentes, Jawa Barat;  Carita, Banten;  Samboja, Kalimantan Timur;  Benakat, Sumatera Selatan; dan Riam Kiwa, Kalimantan Selatan.
  3. Tipe hutan monsoonseperti Cikampek, Jawa Barat;Gunung Kidul, DI Yogyakarta; Wonogiri, dan Cepu, JawaTengah; Padekan Malang, Jawa Timur; dan Rarung, NTB.
  4. Tipe hutan rawa gambut seperti Lubuk Sakat, Riau; Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah. 
  5. Tipe hutan savana seperti Aek Godang, Sumatera Utara; Hambala, NTT. 

 

Topografi wilayah KHDTK sangat bervariasi, dari topografi datar hingga berbukit, dengan aksesibilitas yang bervariasi dari yang mudah dijangkau hingga sulit dijangkau. Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar KHDTK secara umum masih tergolong rendah. Kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan merupakan masalah pokok keseharian para penduduk di sekitar KHDTK.Beberapa KHDTK di sekitar obyek wisata alam, selain bermata pencaharian bertani semusim, juga mulai masuk penyedia jasa pada sub-sektor wisata. Ancaman, gangguan, dan hambatan dalam pengelolaan KHDTK pada umumnya, antara lain:

  1. Penjarahan kawasan untuk pertanian,
  2. Pemukiman liar di dalam kawasan,
  3. Penebangan liar,
  4. Penambangan liar,
  5. Penggembalaan liar,
  6. Kebakaran hutan akibat peladangan,
  7. Pencurian hasil hutan bukan kayu,
  8. Pencabutan tanda batas petak, nomor petak, dan papan nama pohon,
  9. Belum tertatanya plot-plot penelitian, dan
  10. Tata usaha kayu dari tegakan yang masak tebang dan tumbang belum ada.

Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus

A PHP Error was encountered

Severity: 8192

Message: strpos(): Non-string needles will be interpreted as strings in the future. Use an explicit chr() call to preserve the current behavior

Filename: MX/Router.php

Line Number: 239

Backtrace:

File: /home/u8325654/public_html/application/third_party/MX/Router.php
Line: 239
Function: strpos

File: /home/u8325654/public_html/application/third_party/MX/Router.php
Line: 72
Function: set_class

File: /home/u8325654/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once