Type KHDTK BLI

Pada umumnya KHDTK dibangun dalam rangka menunjang kegiatan kelitbangan atau sebagai pintu masuk dari penerapan hasil litbang. KHDTK juga dapat mewakili tipe-tipe hutan berdasarkan formasi klimatis dan edaphis, seperti: a) Tipe hutan hujan tropika basah dataran tinggi seperti di Aek Nauli, Sumatera Utara; Arcamanik, Jawa Barat; Kaliurang, D.I. Yogyakarta; dan Sumberwringin, Jawa Timur. b) Tipe hutan hujan tropika basah dataran rendah seperti di Haurbentes, Jawa Barat; Carita, Banten; Samboja, Kalimantan Timur; Benakat, Sumatera Selatan; dan Riam Kiwa, Kalimantan Selatan. c) Tipe hutan monsoon seperti Cikampek, Jawa Barat; Gunung Kidul, DI Yogyakarta; Wonogiri, dan Cepu, JawaTengah; Padekan Malang, Jawa Timur; dan Rarung, NTB. d) Tipe hutan rawa gambut seperti Lubuk Sakat, Riau; Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah. e) Tipe hutan savana seperti Aek Godang, Sumatera Utara; Hambala, NTT. Topografi wilayah KHDTK sangat bervariasi, dari topografi datar hingga berbukit, dengan aksesibilitas yang bervariasi dari yang mudah dijangkau hingga sulit dijangkau. Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar KHDTK secara umum masih tergolong rendah. Kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan merupakan masalah pokok keseharian para penduduk di sekitar KHDTK. Beberapa KHDTK di sekitar obyek wisata alam, selain bermata pencaharian bertani semusim, juga mulai masuk penyedia jasa pada sub-sektor wisata. Ancaman, gangguan, dan hambatan dalam pengelolaan KHDTK pada umumnya, antara lain: a) Penjarahan kawasan untuk pertanian, b) Pemukiman liar di dalam kawasan, c) Penebangan liar, d) Penambangan liar, e) Penggembalaan liar, f) Kebakaran hutan akibat peladangan, g) Pencurian hasil hutan bukan kayu, h) Pencabutan tanda batas petak, nomor petak, dan papan nama pohon, i) Belum tertatanya plot-plot penelitian, dan j) Tata usaha kayu dari tegakan yang masak tebang dan tumbang belum ada.